Hutan rimba Amazon adalah paru-paru dunia yang menghasilkan 20% oksigen di dunia. Namun, penebangan liar, kebakaran hutan, perburuan liar, dan eksploitasi tambang semakin merajalela. (hlm. 1)
Amazon dengan segala kekayaannya sekarang ini banyak mengalami kerusakan. Sungai Amazon sendiri merupakan sungai terpanjang di dunia yang terbentang di sembilan negara. Untuk melindungi hutan Amazon serta kehidupan suku asli, Keluarga Bindae diberangkatkan ke sana.
Keluarga Bindae yang terdiri dari ayah (Na Bindae), ibu (Wang Chansun), Na Sogeum, serta Na Deollong melakukan perjalanan di sana, bertemu orang-orang suku asli dan hewan-hewan yang keberadaannya hampir punah. Dalam melakukan perjalanan tersebut mereka mendapat ilmu yang berharga selain mengerjakan tugas mulia membantu mencegah terjadinya kerusakan.
Ekspedisi mereka di Amazon dimulai dari Suku Amazon, suku yang hanya dihuni oleh perempuan. Apabila ada yang melahirkan seorang bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibawa keluar daerah, diberikan ke ayah kandungnya atau suku lain. Bagaimana mereka bisa melahirkan, sedang mereka semua perempuan? Jadi, para penghuni suku Amazon di waktu yang sudah ditentukan akan menghabisakan beberapa hari bersama laki-laki dari suku lain untuk kemudian menghasilkan keturunan. Dalam perjalanan itu, mereka mendapat tugas mengantarkan bayi laki-laki yang baru lahir ke ayahnya yang tinggal di suku lain.
Setelah berhasil mempertemukan bayi laki-laki dari Suku Amazon, Keluarga Bindae melanjutkan ekspedisi menuju Suku Caboclo, suku campuran Indian dan Portugal yang hidup di tepi sungai. Mereka membangun rumah di atas pancang yang tinggi dengan tujuan menghindari banjir akibat meluapnya air sungai saat musim hujan. Keluarga Bindae juga membuat rumah di sana. Namun, karena mereka membangun rumah di atas pancang yang pendek dan saat itu hujan turun dengan derasnya, rumah merekapun terendam.
Selanjutnya, mereka bertemu dengan Suku Zoe. Suku ini memiliki ciri khas "Poturu", potongan tulang monyet yang dihias, dilubangi, dan dipakai di dagu orang-orang dari suku ini. Laki-laki di suku ini pandai berburu dan memanah. Mereka berburu babi hutan, rusa, armadilo, dan lainnya. Hasil buruan mereka dibagikan secara langsung kepada orang-orang di sana. Dalam tradisi mereka, orang yang sudah menangkap hewan buruan diberi kehormatan untuk membagikan daging dengan adil. Na Deollong yang suka makan menghabiskan banyak daging melebihi jatahnya. Namun, berkat dia roh jahat hitam (babi hutan) yang selama ini jadi buruan para penduduk berhasil ditangkap.
Suku lain yang ada di Amazon adalah Suku Matis. Mereka menghormati nenek moyangnya, nenek Mariwin dan percaya bahwa roh nenek Mariwin menjaga suku Matis yang tinggal di hutan rimba berbahaya, Amazon. Nenek Mariwin biasanya datang pada saat upacara tradisional untuk memberi pelajaran kepada anak malas atau anak yang melakukan kesalahan dengan mencambuk anak tersebut. Na Deollong dan Na Sogeum berkesempatan untuk melihat upacara tersebut. Dellong bersama Rafael, anak asli Suku Matis berhasil mengalahkan pemburu yang hendak menangkap Boto si lumba-lumba pink, hewan suci di Sungau Amazon ini.
Saat Deollong dan Sogeum melihat upacara Suku Matis, mereka belum sadar bahwa mereka berpisah dengan kedua orang tuanya. Mereka baru sadar ketika sampai di Hutan Rimba Amazon dan pada saat itulah mereka melihat tiga orang laki-laki yang menebang pohon samauma berumur ratusan tahun dan menangkap monyet kecil, kukang, dan monyet uakari berwajah merah secara ilegal. Bersama salah satu perempuan Suku Yanomami yang juga pemilik monyet kecil itu, mereka berhasil membantu penangkapan para pelaku tersebut. Sogeum dan Deollong bertemu lagi dengan orang tua mereka ketika mereka berkunjung ke Yano, tempat hidup bersama sekitar 25 keluarga Suku Yanomami yang bagian tengahnya berlubang, sehingga bisa melihat langit.
Keluarga Bindae berhasil keluar dari Hutan Rimba Amazon. Mereka menaiki bus menuju Pasar Sabtu di Otavalo, Ekuador. Pasar ini hanya buka hari Sabtu dan menyediakan berbagai macam barang kebutuhan penduduk asli sana. Deollong membuat masalah dengan pemilik llama (yama), hewan mirip unta yang suka meludah. Namun, pada akhirnya Keluarga Bindae menolong pemilik llama itu berjualan di pasar.
Dari Pasar Sabtu, mereka kemudian melanjutkan ekspedisinya ke Kolombia. Tujuan pertama adalah Museum Emas Bogota di Bogota, ibu kota Kolombia. Mereka hampir ditangkap penjaga keamanan museum karen begitu mengagumi karya emas di sana, mereka terlihat seperti hendak mengambilnya. Bersama Louis dan Alix, Sogeum dan Deollong mengikuti Kakek Harta Karun mencari harta karun di sebuah gua yang diperkirakan menjadi gua harta karun. Namun bukan emas yang ditemukan, melainkan Emilia, anak terkaya di desa yang beberapa hari sebelumnya diculik. Deollong yang berhasil menyelamatkan Emilia diberi balas jasa satu toes kopi Supremo Kolombia. Sedangkan Kakek Harta Karun dibawa ke ruah sakit karena ternyata dia mengalami depresi.
Ekspedisi selanjutnya adalah ke Machu Picchu. Keluarg Bindae datang dengan menggunakan kereta. Tak disangka ternyata 3 penebang liar di Amazon yang waktu itu ditangkap juga menggunakan kereta yang sama dengan Keluarga Bindae. Keluarga Bindae turun dari kereta dan melanjutkan perjalanan ke Machu Picchu dengan bus. Sedangkan para penebang liar itu terlambat menyadari, sehingga mereka ketinggalan. Deollong sekeluarga menikmati Machu Picchu yang berada di Pegunungan Andes dan merupakan kota dari peradaban Inka. Saat perjalanan pulang, mereka melihat Goodbye Boy. Seorang anak laki-laki yang dijuluki Goodbye Boy ini akan mengucapkan salam perpisahan saat bus berangkat dari Machu Picchu. Anak ini nantinya juga akan mengucapkan salam setelah bus melewati belokan, sehingga para wisatawan pun terkejut. Sang sopir bus membuka pintu dan mengizinkan Goodbye Boy ini mendapat bayaran. Namun saat tiba di Keluarga Bindae, mereka semua berpura-pura tidur, sehingga Goodbye Boy mengambil makanan yang dipegang Deollong. Karena tidak terima, Deollong turun dari bus dan mengejar anak laki-laki itu. Pada saat bersamaan, para penebang liar itu datang dan menangkap Deollong. Dengan bantuan Goodbye Boy, Deollong berhasil kabur dari kejaran mereka. Keluarga Bindae akhirnya pulang ke negaranya lagi setelah melalui banyak hal di Amazon.
Komik terjemahan dari Korea Selatan ini berbeda dari komik pada umumnya. Ilustrasinya yang berwarna dengan ukuran sebesar buku paket menjadikan komik ini lebih menarik. Meskipun terdiri dari hampir 200 lembar, tidak akan terasa saat kita membacanya. Selain ilustrasi yang menghibur, di komik ini juga diselipi beragam informasi mengenai kebudayaan dan keunikan dari masing-masing daerah yang Keluarga Bindae kunjungi.
Keluarga Super Irit edisi Amazon merupakan komik seri keliling dunia. Selain Amazon, ada juga Afrika dan Tiongkok yang bisa dijadikan bacaan sambil mengenal negara tersebut. Membacanya serasa kita dibawa berjalan-jalan mengelilingi dunia.
Judul: Keluarga Super Irit Keliling Dunia: Amazon
Penulis: Kwon, Chan-ho
Ilustrator: Ryu, Soo-hyung
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: KEDUA, Mei 2017
ISBN: 978-602-394-505-4
